Suara Jateng menyuarakan pilu mendalam yang dirasakan oleh para petani di Jawa Tengah yang terjebak dalam Dilema Petani klasik. Saat musim panen tiba, bukannya untung, harga gabah justru anjlok akibat intervensi pasar yang tidak terduga.
Penyebab utama anjloknya harga adalah kebijakan Impor Beras yang seringkali masuk ke pasar domestik pada waktu yang tidak tepat. Masuknya beras impor saat stok lokal melimpah memukul telak harga komoditas utama petani.
Dilema Petani ini bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang pengakuan terhadap kerja keras mereka. Petani menuntut Keadilan Harga Komoditas Lokal agar hasil jerih payah mereka dihargai sepadan dengan biaya produksi yang terus meningkat.
Suara Jateng mengkritik tata kelola impor yang tidak transparan dan tidak sinkron dengan data produksi pangan nasional yang seharusnya akurat. Ketidakjelasan ini membuat petani selalu berada dalam posisi yang dirugikan.
Impor Beras memang diperlukan saat stok nasional menipis, namun timing impor harus diatur dengan sangat hati-hati agar tidak menjatuhkan Keadilan Harga Komoditas Lokal. Perlindungan terhadap petani harus diutamakan.
Pemerintah harus memastikan adanya harga dasar pembelian yang melindungi petani dari kerugian saat panen raya. Program penyerapan hasil panen oleh Bulog harus berjalan efektif dan efisien di tingkat petani.
Dilema Petani ini juga terjadi pada komoditas lain selain beras. Oleh karena itu, Keadilan Harga Komoditas Lokal harus menjadi prinsip dasar dalam setiap kebijakan perdagangan pangan yang diambil oleh negara.
Suara Jateng mendesak perbaikan total pada sistem logistik dan penyimpanan pascapanen. Dengan begitu, hasil panen petani dapat disimpan dengan baik dan tidak terburu-buru dijual dengan harga rendah demi menghindari kerugian.
Penyelesaian Dilema Petani ini adalah kunci kedaulatan pangan. Negara harus menjamin Keadilan Harga Komoditas Lokal agar petani tidak beralih profesi, yang akan mengancam pasokan pangan nasional di masa depan.
