Manajemen Stres & Puasa: Hubungan Ketenangan Hati dengan Imunitas
Memasuki pertengahan bulan Ramadan di tahun 2026, banyak individu mulai merasakan tekanan rutinitas yang cukup tinggi. Antara kewajiban pekerjaan yang tetap menuntut profesionalitas dan ibadah malam yang menyita waktu istirahat, potensi munculnya tekanan mental menjadi sangat besar. Padahal, inti dari ibadah ini bukan sekadar menahan lapar, melainkan juga melakukan manajemen stres yang efektif. Banyak penelitian medis terbaru menunjukkan bahwa kondisi psikologis seseorang selama berpuasa memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap kemampuan tubuh dalam menangkal berbagai serangan penyakit dari luar.
Secara biologis, ketika seseorang mengalami tekanan pikiran yang berlebih, tubuh akan melepaskan hormon kortisol secara masif ke dalam aliran darah. Hormon ini, jika dibiarkan tinggi dalam waktu lama, bertindak sebagai penekan sistem pertahanan tubuh yang sangat kuat. Inilah mengapa hubungan antara ketenangan hati dengan kesehatan fisik sangatlah erat. Saat seseorang mampu menjaga emosinya tetap stabil selama berpuasa, kadar kortisol akan menurun, sehingga sel-sel darah putih dapat bekerja lebih optimal dalam berpatroli mencari virus atau bakteri yang mencoba masuk ke dalam sistem tubuh kita.
Puasa sebenarnya merupakan sarana detoksifikasi mental yang luar biasa jika dilakukan dengan kesadaran penuh. Ibadah ini melatih kontrol diri terhadap amarah, kesabaran, dan empati. Di tahun 2026, para ahli psikoneuroimunologi menekankan bahwa aktivitas spiritual seperti zikir, doa, dan meditasi ringan saat menunggu waktu berbuka dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis. Sistem inilah yang bertanggung jawab untuk mode “istirahat dan cerna”, yang sangat berlawanan dengan mode “lawan atau lari” yang dipicu oleh stres kronis. Dengan demikian, menjaga kedamaian batin adalah bentuk proteksi diri yang paling mendasar.
Selain itu, aspek sosial dari puasa seperti berbagi makanan atau berbuka bersama keluarga juga memiliki peran dalam memperkuat daya tahan tubuh. Interaksi sosial yang positif melepaskan hormon oksitosin, yang sering disebut sebagai hormon kasih sayang. Oksitosin tidak hanya memberikan rasa bahagia, tetapi juga memiliki sifat anti-inflamasi yang membantu meredakan peradangan di dalam sel. Jadi, manajemen tekanan mental selama Ramadan bukan hanya tentang menyendiri, melainkan juga tentang membangun koneksi yang bermakna dengan sesama manusia untuk menciptakan lingkungan psikologis yang sehat.
